Selasa, 16 Februari 2021

Kenangan Tak Terlupakan

          Fifit Dyah Retnowati, S.Pd., M.M. 


Misdi. Nama yang singkat, tetapi sangat kharismatik. Beliau adalah guru saya waktu masih duduk di Sekolah Dasar. Sekolah kecil di pinggiran kota Nganjuk. Sekolah yang waktu itu masih jauh dari predikat sekolah layak karena minim fasilitas. Tembok kelas yang retak-retak, toilet yang hanya 1 buah dan tidak berfungsi, bangku dan kursi yang kayunya sudah banyak yang lapuk. Beliau menjadi wali kelas saya selama 2 tahun berturut-turut saat saya duduk di kelas 4 dan 5. Meski rumahnya sekitar 8 km dari sekolah, tetapi Beliau selalu datang paling pagi diantara guru-guru yang lain. Sepeda unto nya (sepeda perang jaman dulu) selalu terparkir di depan ruang guru. Kemudian Beliau langsung berdiri di gerbang sekolah menyambut warga sekolah seakan-akan mengharap semangat paginya menular kepada siswa-siswinya.

Dimata saya Pak Misdi adalah sosok guru yang sempurna. Di saat istirahat saat kami para siswanya tidak ada kegiatan, tak segan beliau menceritakan kisah-kisah inspiratif seperti kisah nabi, cerita legenda, bahkan cerita tokoh terkenal di dunia. Kala itu kami tidak tahu mengapa Beliau rela meluangkan waktu santainya. Tetapi setelah dewasa kini, kami baru sadar, bahwa dengan bercerita, ada pesan moral dan tauladan yang diharapkan dapat kami ambil hikmahnya.

Pak Misdi juga guru yang hebat.  Saat mengajar, materi yang susah menurut saya disampaikan dengan sangat mudahnya. Masih ingat dalam benak saya saat Pak Misdi tidak masuk karena sakit dan harus digantikan oleh guru yang lain, saya sempat menangis karena saat guru pengganti tersebut menerangkan tentang KPK dan FPB (salah satu materi dalam mata pelajaran matematika), saya tidak memahaminya. Beruntunglah Pak Misdi segera masuk dan mengajar kami kembali. KPK dan FPB bukan momok lagi. Bahkan cara yang Beliau ajarkan kala itu kepada kami, saya gunakan kembali untuk menerangkan konsep yang sama kepada anak saya saat ini. Ketika berada di depan kelas, beliau bagaikan magnet. Semua perhatian tertuju hanya kepada Pak Misdi. Tak satupun teman-teman saya meninggalkan tempat duduknya atau bahkan berbisik dengan teman sebangkunya. Karena pembelajaran yang beliau sampaikan selalu menarik. Beliau selalu membawa media pembelajaran yang sederhana untuk mempermudah pemahaman kami. Saat belajar tentang perubahan sifat benda, konsep pemanasan, Beliau membawa kompor dan panci berisi air untuk kami amati prubahannya. Kami juga pernah diajak ke sawah dekat sekolah saat kami harus belajar tentang materi pertumbuhan pada makhluk hidup. Sungguh Pak Misdi bisa menciptakan skenario pembelajaran yang bisa menjadi “unforgettable moment” bagi kami siswanya.

Sebagai seorang muslim, beliau memberikan tauladan kepada kami untuk selalu taat beribadah. Meski bukan guru Pendidikan Agama Islam, Beliau membiasakan siswanya untuk Sholat Dhuha dan Sholat Dhuhur berjama’ah di sudut kelas yang sudah kami bersihkan sebelumnya. Pak Misdi juga seorang yang ramah. Beliau murah senyum dan baik kepada siapa saja. Tak masalah bagi beliau menyapa atau sekedar senyum kepada siswanya. “Nduk” adalah sapaan akrab beliau kepada teman-teman kami yang perempuan. Beliau juga sering menanyakan keadaan anggota keluarga kami. “Piye kabare Bapakmu?” (Gimana kabar Bapakmu) saat Beliau mendapatkan informasi ada salah satu orang tua teman kami yang sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit. Entah itu sekedar iseng atau memang Beliau “care” dengan kami. Tapi kami yakin, bahwa apa yang Beliau sampaikan pada saat itu tulus dari hati Beliau yang paling dalam.

Beliau bukanlah seorang guru yang hanya asal memerintah tanpa memberikan teladan. Jika beliau menghendaki kami bekerja bakti membersihkan kelas, tak segan beliau membantu untuk menyapu lantai, mengelap kaca, atau sekedar membantu siswa laki-laki untuk menaikkan kursi di atas meja agar mudah di sapu. Beliau termasuk guru yang selalu rapi dan menjaga penampilan. Baju yang Beliau kenakan selalu rapi dan bersih. Sehingga saat kami berpenampilan tidak menarik, maka jika berpapasan dengan Beliau selalu kami salah tingkah dengan segera membetulkan hal-hal yang kurang pas yang ada pada kami.

Dalam kedekatan dengan siswanya tidak perlu diragukan lagi. Pernah suatu hari, kami mendengar informasi yang membuat kami resah tentang Pak Misdi. Dari informasi Mbah Man, seorang penjaga sekolah kami, Pak Misdi akan dipindahkan ke sekolah lain dikarenakan diduga tersangkut sebuah kasus pemukulan terhadap siswa. Sungguh menurut kami itu adalah berita yang tidak masuk akal. Memang, beberapa hari Beliau tidak nampak hadir di sekolah. Pak Misdi bukan seorang yang temperamen. Kami seluruh siswa kelas 5 dan 6 waktu itu memberanikan diri untuk menanyakan kebenaran kasus ini kepada dewan guru dan kepala sekolah. Hal yang luar biasa menurut saya jika dilihat kami masih dikategorikan anak-anak untuk mengetahui kasus serius seperti ini. Hanya 1 harapan dan doa kami. Pak Misdi segera terbebas dari masalah ini. Dan Alhamdulillah kami mengucap syukur bahwa masalah Pak Misdi ini adalah sebuah kesalahpahaman dari orangtua siswa yang mendapat laporan yang salah dari anaknya. Tidak berapa hari setelahnya, Pak Misdi kembali ke sekolah kami. Beliau mengucapkan terima kasih kepada kami semua atas dukungan dan do’anya sehingga Beliau dapat melalui ujian dan cobaan dengan baik dan sabar.

Dari Pak Misdi lah cita-cita saya menjadi seorang guru tumbuh. Saat saya sudah memasuki bangku SMA dan diharuskan mengisi angket cita-cita, dengan tanpa ragu-ragu saya mengisinya dengan “GURU”. Yah… guru. Sambil saya membayangkan wajah Pak Misdi yang sudah semakin menua. Terima kasih Pak Misdi…. Saya menjadi guru sekarang ini berkat inspirasi darimu. Akan selalu saya ingat tauladan-tauladan dari Bapak untuk saya terapkan pada anak didik saya…..

 

 

 

Fifit Dyah Retnowati, S.Pd., M.M. Guru SMA Negeri 1 Kutorejo Mojokerto. Seorang yang selalu bersemangat dan hobby menulis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kenangan Tak Terlupakan

             Fifit Dyah Retnowati, S.Pd., M.M.  Misdi. Nama yang singkat, tetapi sangat kharismatik. Beliau adalah guru saya waktu masih du...